Nasib Veteran : Berjuang, Dibuang, Terlupakan
Kumpulan Esai - Tidak banyak yang tahu bahwa ada satu hari dalam setahun yang oleh pemerintah ditetapkan sebagai hari Korps Cacat Veteran Republik Indonesia. Hari yang tepatnya diperingati setiap 19 Mei ini merupakan hari yang didedikasikan untuk menghormati para veteran yang mengalami cacat permanen karena berjuang demi negara. Selain itu hari korps cacat veteran juga bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai perjuangan kepada generasi penerus agar selalu berjuang mengharumkan nama bangsa dan mempertahankan kemerdekaan kedaulatan negara.
Veteran berasal dari bahasa Latin vetus yang berarti tua. Sedangkan secara umum, veteran dapat diartikan sebagai orang yang pernah bekerja dalam sebuah institut militer atau memiliki pengalaman dalam suatu perang. Di Indonesia, veteran perang diklasifikasikan ke dalam tiga jenis. Pertama yaitu mereka yang berjuang dalam era perang.
Kedua adalah mereka yang berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan dari agresi tentara asing. Ketiga, yakni mereka yang berjuang dalam perang untuk membela kepentingan bangsa atau bangsa-bangsa lain yang bersekutu dengan Indonesia. Walau begitu, seiring dengan berjalannya waktu, ada wacana untuk memperluas klasifikasi ini, seperti memasukkan para veteran perang Timor-Timur dan para veteran yang ikut berperang menumpas gerakan separatis di beberapa daerah.
Hari veteran di berbagai negara
Hampir semua negara di dunia memiliki generasi veterannya masing-masing. Ini karena hampir semua negara di dunia pernah merasakan kejamnya tirani penjajahanm bahkan negara yang paling terkenal sebagai negara penjajah sekalipun, seperti Belanda dan Inggris. Belanda secara bergiliran dijajah Perancis, Spanyol dan Jerman, sedang Inggris selama ratusan tahun hidup dalam cengkeraman Romawi dan Perancis.
Ketika rakyat menjerit akibat begitu kejamnya para penjajah menindas, muncul para pahlawan yang dengan gagah berani mempertaruhkan nyawa untuk mengusir para kolonialis dari bumi pertiwi. Tentu risiko kematian sudah pasti begitu dekat dengan keseharian mereka selama berjuang. Khususnya untuk korps cacat veteran, mereka adalah para pejuang yang berhasil lolos dari kematian pada waktu berjuang di medan laga.
Tetapi mereka juga harus menjalani hidup yang tak kalah kerasnya, karena menderita cacat permanen akibat perang.
Cacat yang mereka derita bisa karena berbagai hal, seperti karena tertembak, terkena bom atau ranjau hingga harus diamputasi. Ada juga yang menjadi cacat karena tertangkap oleh para pasukan penjajah dan diamputasi paksa. Tetapi harus diingat, di balik tubuh mereka yang tua, rapuh dan cacat tersebut, tersembunyi kisah kepahlawanan yang mampu menggetarkan langit Indonesia. Kisah keberanian dan ketulusan yang membuahkan suatu cita-cita luhur yang kini dinikmati oleh para generasi sekarang, bangsa yang merdeka.
Selain di Indonesia, ada beberapa negara lain yang juga mengkhususkan satu hari dalam setahun untuk para veteran. Bahkan dalam kesehariannya, para veteran di sana ternyata mengalami hidup yang jauh lebih baik dibanding para veteran di Indonesia, seperti misalnya di Amerika Serikat.
Negeri Barrack Obama itu memiliki sebuah hari yang dikhususkan untuk para veteran bernama Veterans Day. Peringatan hari veteran di negeri Paman Sam itu sendiri jatuh setiap Senin kedua di bulan November.
Pada saat itu hampir di seluruh sudut kota, suasana terlihat sangat meriah. Para veteran perang diarak di jalan-jalan menggunakan mobil atau kereta kuda, sedang orang-orang bersorak-sorak dan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih. Hari veteran sendiri ditetapkan sebagai salah satu hari libur nasional di Amerika Serikat.
Amerika Serikat memang salah satu negara yang paling memperhatikan para veteran perangnya. Di sana, para veteran perang dianggap sebagai pahlawan yang sudah menunjukkan pengorbanan yang begitu besar bagi kepentingan Amerika Serikat. Mereka mendapat tunjangan pensiun yang layak, rumah dari negara, tunjangan beasiswa untuk anaknya, tunjangan pelayanan kesehatan hingga tunjangan kematian.
Tetapi hebatnya, banyak pula dari veteran perang ini yang tidak mau hanya mengandalkan tunjangan-tunjangan tersebut. Mereka lebih suka untuk tetap produktif di usia tua, bahkan bagi mereka yang cacat sekalipun.
Beda di Amerika, beda pula di Rusia. Negara yang sering dianggap sebagai penerus Uni Soviet ini juga sangat menghargai jasa para veterannya. Mereka memiliki berbagai tunjangan dan penghargaan dari negara. Khusus untuk para veteran yang pernah berjuang melawan agresi Jerman Nazi, mereka juga mendapat penghargaan khusus, yakni berupa penetapan Hari Kemenangan. Hari kemenangan adalah hari untuk memperingati kemenangan Uni Soviet melawan Jerman saat perang dunia II dulu.
Pada hari itu, ribuan veteran dari belasan negara eks-federasi Uni Soviet (seperti Rusia, Belarusia, Lithuania, Moldova, dll) diarak dalam sebuah pawai super megah. Bahkan empat hari sebelum hari kemenangan, sekolah dan kantor sudah mulai diliburkan.
Lantas bagaimana dengan Indonesia? Dulu Bung Karno pernah mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Sudahkah bangsa ini melakukan seperti yang dikatakan Bung Karno tersebut? Atau bangsa ini tetap terkungkung dalam penyakit lamanya, amnesia sejarah?
Hanya dimuliakan saat Agustusan
Sering kita melihat ratusan veteran yang hadir pada saat upacara peringatan HUT (Hari Ulang Tahun) Kemerdekaan Indonesia. Mereka begitu rapuh, renta, dan lemah, walaupun sorot matanya masih menyiratkan keberanian dan kegagahan.
Lantas pertanyaannya, apakah mereka hanya khusus dihadirkan, disorot kamera dan diberi bingkisan pada saat Agustusan saja? Apakah keberadaan mereka hanya terasa ketika Agustusan saja? Atau apakah mereka manusia-manusia yang hanya patut dihargai dan diingat hanya ketika Agustusan?
Ini adalah sesuatu yang sangat miris, apalagi bagi para korps cacat veteran. Mereka telah rela kehilangan tangan, kaki, mata, atau bagian lainnya untuk kemerdekaan negeri ini. Mereka rela bertempur mati-matian, kadang dalam keadaan tanpa makanan dan minuman sekalipun, asal negeri ini merdeka. Bagi mereka, hanya ada dua hal dalam benaknya saat itu, merdeka atau mati.
Perjuangan mereka pun tidak sia-sia. Walau hanya bersenjatakan bambu runcing, tetapi terbukti mereka mampu mengusir pulang Belanda, Inggris, Portugis dan Jepang dari tanah pertiwi. Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa serta diiringi dengan kegigihan, mereka berhasil mempersembahkan sebuah negara yang merdeka dan berdaulat.
Lantas apakah mereka yang kemudian menikmati jalan aspal yang mulus, kemudahan mendapat akses pendidikan, serta kondisi yang jauh lebih sejahtera seperti sekarang ini? Tentu saja bukan. Kitalah, sebagai generasi penerus yang kemudian merasakan buah dari perjuangan mereka. Darah, jiwa dan perjuangan merekalah yang membuat kita tidak lagi hidup tertindas dan terhina akibat penjajahan oleh bangsa asing.
Bangsa yang durhaka
Lantas, sudah sepatutnya kita bertanya, apakah kita sebagai generasi penikmat kemerdekaan sudah memberikan penghargaan yang setidaknya memang pantas mereka terima? Tentu saja tidak. Bahkan andaikan semua kekayaan dari generasi sekarang dipersembahkan untuk mereka, para veteran perang tersebut, itu belum cukup untuk membayar segala pengorbanan yang sudah mereka tunjukkan bagi pertiwi.
Tetapi jangankan memberikan penghargaan yang layak, bangsa ini justru cenderung melupakan perjuangan yang dulu mereka lakukan. Tengok saja, masih sangat banyak veteran perang yang harus hidup menderita, tinggal di rumah reyot yang siap digusur kapan saja serta masih harus membanting tulang di usia tua. Inikah sesuatu yang pantas untuk mereka?
Di saat pendidikan karakter digembar-gemborkan, bangsa ini ternyata masih saja mendustai sejarahnya sendiri, dengan membiarkan orang-orang yang telah berjuang bagi negara hidup sengsara dan lupa cara mengucapkan terima kasih dengan benar.
Bukan hanya pemerintah
Apakah semua ini tanggung jawab pemerintah? Jelas tidak. Mengurus bawang putih dan garam saja pemerintah sudah kalang kabut, bagaimana mau mengurus para veteran cacat ini, yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.
Tetapi untuk memberi tunjangan, jelas itu tanggung jawab pemerintah. Sedang masyarakat bisa membantu dengan memberikan pendampingan bagi para veteran ini agar bisa mendapatkan tunjangan tersebut. Jangan sampai para veteran ini sudah tidak mendapat tunjangan, malah hidup menjadi gembel di jalan-jalan kota.
Sebenarnya, para veteran ini tidak pernah berpikir akan mendapat tunjangan ketika dulu berjuang. Pemikiran mereka hanya satu, merdeka, entah harus dengan apa meraihnya. Tetapi kini, betapa tidak tahu malunya bangsa ini, ketika para legislator di senayan ngotot minta kenaikan gaji, sementara mereka, para eks pejuang bangsa ini, masih hidup sengsara.
Dengan darah mereka kita merdeka. Dengan peluh dan pengorbanan mereka, kita terbebas dari penjajahan. Tetapi apakah keberadaan mereka hanya untuk dipamerkan pada setiap Agustusan? Atau menjadi bahan kampanye bagi partai-partai politik? Hargai jasa mereka, dan jadilah bangsa yang besar. Merdeka!!! Hidup veteran, hidup Indonesia.
![]() |
| Nasib Veteran di Indonesia |
Veteran berasal dari bahasa Latin vetus yang berarti tua. Sedangkan secara umum, veteran dapat diartikan sebagai orang yang pernah bekerja dalam sebuah institut militer atau memiliki pengalaman dalam suatu perang. Di Indonesia, veteran perang diklasifikasikan ke dalam tiga jenis. Pertama yaitu mereka yang berjuang dalam era perang.
Kedua adalah mereka yang berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan dari agresi tentara asing. Ketiga, yakni mereka yang berjuang dalam perang untuk membela kepentingan bangsa atau bangsa-bangsa lain yang bersekutu dengan Indonesia. Walau begitu, seiring dengan berjalannya waktu, ada wacana untuk memperluas klasifikasi ini, seperti memasukkan para veteran perang Timor-Timur dan para veteran yang ikut berperang menumpas gerakan separatis di beberapa daerah.
Hari veteran di berbagai negara
Hampir semua negara di dunia memiliki generasi veterannya masing-masing. Ini karena hampir semua negara di dunia pernah merasakan kejamnya tirani penjajahanm bahkan negara yang paling terkenal sebagai negara penjajah sekalipun, seperti Belanda dan Inggris. Belanda secara bergiliran dijajah Perancis, Spanyol dan Jerman, sedang Inggris selama ratusan tahun hidup dalam cengkeraman Romawi dan Perancis.
Ketika rakyat menjerit akibat begitu kejamnya para penjajah menindas, muncul para pahlawan yang dengan gagah berani mempertaruhkan nyawa untuk mengusir para kolonialis dari bumi pertiwi. Tentu risiko kematian sudah pasti begitu dekat dengan keseharian mereka selama berjuang. Khususnya untuk korps cacat veteran, mereka adalah para pejuang yang berhasil lolos dari kematian pada waktu berjuang di medan laga.
Tetapi mereka juga harus menjalani hidup yang tak kalah kerasnya, karena menderita cacat permanen akibat perang.
Cacat yang mereka derita bisa karena berbagai hal, seperti karena tertembak, terkena bom atau ranjau hingga harus diamputasi. Ada juga yang menjadi cacat karena tertangkap oleh para pasukan penjajah dan diamputasi paksa. Tetapi harus diingat, di balik tubuh mereka yang tua, rapuh dan cacat tersebut, tersembunyi kisah kepahlawanan yang mampu menggetarkan langit Indonesia. Kisah keberanian dan ketulusan yang membuahkan suatu cita-cita luhur yang kini dinikmati oleh para generasi sekarang, bangsa yang merdeka.
Selain di Indonesia, ada beberapa negara lain yang juga mengkhususkan satu hari dalam setahun untuk para veteran. Bahkan dalam kesehariannya, para veteran di sana ternyata mengalami hidup yang jauh lebih baik dibanding para veteran di Indonesia, seperti misalnya di Amerika Serikat.
Negeri Barrack Obama itu memiliki sebuah hari yang dikhususkan untuk para veteran bernama Veterans Day. Peringatan hari veteran di negeri Paman Sam itu sendiri jatuh setiap Senin kedua di bulan November.
Pada saat itu hampir di seluruh sudut kota, suasana terlihat sangat meriah. Para veteran perang diarak di jalan-jalan menggunakan mobil atau kereta kuda, sedang orang-orang bersorak-sorak dan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih. Hari veteran sendiri ditetapkan sebagai salah satu hari libur nasional di Amerika Serikat.
Amerika Serikat memang salah satu negara yang paling memperhatikan para veteran perangnya. Di sana, para veteran perang dianggap sebagai pahlawan yang sudah menunjukkan pengorbanan yang begitu besar bagi kepentingan Amerika Serikat. Mereka mendapat tunjangan pensiun yang layak, rumah dari negara, tunjangan beasiswa untuk anaknya, tunjangan pelayanan kesehatan hingga tunjangan kematian.
Tetapi hebatnya, banyak pula dari veteran perang ini yang tidak mau hanya mengandalkan tunjangan-tunjangan tersebut. Mereka lebih suka untuk tetap produktif di usia tua, bahkan bagi mereka yang cacat sekalipun.
Beda di Amerika, beda pula di Rusia. Negara yang sering dianggap sebagai penerus Uni Soviet ini juga sangat menghargai jasa para veterannya. Mereka memiliki berbagai tunjangan dan penghargaan dari negara. Khusus untuk para veteran yang pernah berjuang melawan agresi Jerman Nazi, mereka juga mendapat penghargaan khusus, yakni berupa penetapan Hari Kemenangan. Hari kemenangan adalah hari untuk memperingati kemenangan Uni Soviet melawan Jerman saat perang dunia II dulu.
Pada hari itu, ribuan veteran dari belasan negara eks-federasi Uni Soviet (seperti Rusia, Belarusia, Lithuania, Moldova, dll) diarak dalam sebuah pawai super megah. Bahkan empat hari sebelum hari kemenangan, sekolah dan kantor sudah mulai diliburkan.
Lantas bagaimana dengan Indonesia? Dulu Bung Karno pernah mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Sudahkah bangsa ini melakukan seperti yang dikatakan Bung Karno tersebut? Atau bangsa ini tetap terkungkung dalam penyakit lamanya, amnesia sejarah?
Hanya dimuliakan saat Agustusan
Sering kita melihat ratusan veteran yang hadir pada saat upacara peringatan HUT (Hari Ulang Tahun) Kemerdekaan Indonesia. Mereka begitu rapuh, renta, dan lemah, walaupun sorot matanya masih menyiratkan keberanian dan kegagahan.
Lantas pertanyaannya, apakah mereka hanya khusus dihadirkan, disorot kamera dan diberi bingkisan pada saat Agustusan saja? Apakah keberadaan mereka hanya terasa ketika Agustusan saja? Atau apakah mereka manusia-manusia yang hanya patut dihargai dan diingat hanya ketika Agustusan?
Ini adalah sesuatu yang sangat miris, apalagi bagi para korps cacat veteran. Mereka telah rela kehilangan tangan, kaki, mata, atau bagian lainnya untuk kemerdekaan negeri ini. Mereka rela bertempur mati-matian, kadang dalam keadaan tanpa makanan dan minuman sekalipun, asal negeri ini merdeka. Bagi mereka, hanya ada dua hal dalam benaknya saat itu, merdeka atau mati.
Perjuangan mereka pun tidak sia-sia. Walau hanya bersenjatakan bambu runcing, tetapi terbukti mereka mampu mengusir pulang Belanda, Inggris, Portugis dan Jepang dari tanah pertiwi. Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa serta diiringi dengan kegigihan, mereka berhasil mempersembahkan sebuah negara yang merdeka dan berdaulat.
Lantas apakah mereka yang kemudian menikmati jalan aspal yang mulus, kemudahan mendapat akses pendidikan, serta kondisi yang jauh lebih sejahtera seperti sekarang ini? Tentu saja bukan. Kitalah, sebagai generasi penerus yang kemudian merasakan buah dari perjuangan mereka. Darah, jiwa dan perjuangan merekalah yang membuat kita tidak lagi hidup tertindas dan terhina akibat penjajahan oleh bangsa asing.
Bangsa yang durhaka
Lantas, sudah sepatutnya kita bertanya, apakah kita sebagai generasi penikmat kemerdekaan sudah memberikan penghargaan yang setidaknya memang pantas mereka terima? Tentu saja tidak. Bahkan andaikan semua kekayaan dari generasi sekarang dipersembahkan untuk mereka, para veteran perang tersebut, itu belum cukup untuk membayar segala pengorbanan yang sudah mereka tunjukkan bagi pertiwi.
Tetapi jangankan memberikan penghargaan yang layak, bangsa ini justru cenderung melupakan perjuangan yang dulu mereka lakukan. Tengok saja, masih sangat banyak veteran perang yang harus hidup menderita, tinggal di rumah reyot yang siap digusur kapan saja serta masih harus membanting tulang di usia tua. Inikah sesuatu yang pantas untuk mereka?
Di saat pendidikan karakter digembar-gemborkan, bangsa ini ternyata masih saja mendustai sejarahnya sendiri, dengan membiarkan orang-orang yang telah berjuang bagi negara hidup sengsara dan lupa cara mengucapkan terima kasih dengan benar.
Bukan hanya pemerintah
Apakah semua ini tanggung jawab pemerintah? Jelas tidak. Mengurus bawang putih dan garam saja pemerintah sudah kalang kabut, bagaimana mau mengurus para veteran cacat ini, yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.
Tetapi untuk memberi tunjangan, jelas itu tanggung jawab pemerintah. Sedang masyarakat bisa membantu dengan memberikan pendampingan bagi para veteran ini agar bisa mendapatkan tunjangan tersebut. Jangan sampai para veteran ini sudah tidak mendapat tunjangan, malah hidup menjadi gembel di jalan-jalan kota.
Sebenarnya, para veteran ini tidak pernah berpikir akan mendapat tunjangan ketika dulu berjuang. Pemikiran mereka hanya satu, merdeka, entah harus dengan apa meraihnya. Tetapi kini, betapa tidak tahu malunya bangsa ini, ketika para legislator di senayan ngotot minta kenaikan gaji, sementara mereka, para eks pejuang bangsa ini, masih hidup sengsara.
Dengan darah mereka kita merdeka. Dengan peluh dan pengorbanan mereka, kita terbebas dari penjajahan. Tetapi apakah keberadaan mereka hanya untuk dipamerkan pada setiap Agustusan? Atau menjadi bahan kampanye bagi partai-partai politik? Hargai jasa mereka, dan jadilah bangsa yang besar. Merdeka!!! Hidup veteran, hidup Indonesia.

Post a Comment for "Nasib Veteran : Berjuang, Dibuang, Terlupakan"
Tidak menerima komentar berbau SARA, kampanye, iklan judi, pornografi, atau spam.